abad ke-21 menampilkan banyak kemudahan dan kepraktisan dalam hidup.. jika anda bandingkan ketika anda masih hidup pada abad ke-20 akhir.. maka perbedaan yang terasa cukup mencolok.. salah satu hal yang dapat dilihat dengan jelas adalah pada pengguna handphone.. atau yang sekarang bisa kita sebut dengan smartphone.. jika pada tahun 90an barang ini tergolong kategori barang mewah.. dan bahkan kartu atau pulsanya pun sangat mahal.. sekarang handphone sudah menjadi barang dengan kebutuhan pokok.. atau bisa jadi smartphone sudah menjadi kebutuhan sekunder atau bahkan kebutuhan primer untuk sebagian orang..
lalu apa dampaknya dengan kepraktisan dan kemudahan yang ada pada saat ini? saya pernah ikut seminar yang diadakan oleh sinode gereja untuk pemimpin remaja dan pemuda.. disampaikan bahwa banyak orang yang lahir di akhir tahun 90an adalah generasi yang instan.. maunya cepat dan segera.. sehingga itu secara tidak langsung akan mempengaruhi alam bawah sadar dengan kebiasaan yang mereka lakukan.. salah satu contohnya adalah tidak sabaran..
namun rasa ketidaksabaran itu berbanding terbalik dengan ketepatan waktu pada jaman kini.. banyak alasan yang akan muncul ketika mereka datang terlambat dan alasan yang paling kuat untuk mendukung keterlambatan mereka adalah kemacetan.. oke memang jakarta macet.. tapi apakah itu menjadi alasan yang kuat untuk terlambat.. bagaimana perasaan ketika orang yang ditunggu tak kunjung datang.. dan dengan mudahnya berkata untuk dibatalkan saja.. satu hal yang pasti adalah bahwa orang pada jaman dahulu lebih menghargai waktu dan kebanyakan menepati janjinya karena pada jaman tersebut tidak ada handphone untuk dihubungi.. dan satu-satu cara untuk membatalkan adalah bertemu terlebih dahulu..
dan jika banyak alasan yang bisa diutarakan ketika tak punya waktu.. banyak anak muda yang masih sempat untuk melakukan tindakan narsisme.. banyak jenis tindakan narsisme.. dan yang paling jelas kelihatan narsisme adalah berfoto bersama.. karena untuk berfoto membutuhkan waktu yang lumayan banyak ketimbang tindakan narsisme lainnya.. mereka butuh menyalakan kamera.. mengambil angle yang tepat dan waktu yang tepat untuk menghasilkan foto yang baik.. setelah didapat foto yang terbaik ditambahkannya lah filter untuk membuat hal itu semakin indah dan menarik.. dan terakhir tak lupa untuk mempublish di sosial media seperti instagram, twitter ataupun path..
sekali lagi saya bukan orang yang anti kepada tindakan narsisme.. tapi satu hal yang menjadi pertimbangan saya adalah ketika banyak orang masa lalu melakukan tindakan narsisme seperti berfoto untuk disimpan sebagai kenang-kenangan dan dipajang di rumah atau di meja kantor.. sedangkan sekarang banyak yang mempublish ke berbagai media.. tentunya dengan berbagai alasan yang secara langsung tidak bisa dibilang salah ataupun betul juga.. tapi yang jelas itu adalah perbedaan yang mencolok di antara kedua zaman yang ada..
tindakan narsisme bukanlah tindakan yang sepenuhnya salah.. karena itu bergantung kepada persepsi dan tujuan dari pelaku.. namun karena orang lain tidak bisa membaca pikiran dari si pelaku.. dan hanya bisa melihat dari cover yang terpajang saja.. dan karena persepsi satu sisi itulah yang menyebabkan bahwa orang lain terkesan menghakimi.. saya sendiri pernah berada pada situasi tersebut.. dulu saya sering sekali check-in di starbuck dan publish ke twitter.. dengan maksud dan tujuan adalah supaya teman-teman saya yang berada di lokasi terdekat bisa mempir dan ngobrol serta minum bersama.. tapi maksud yang ditangkap orang lain adalah gw terlalu rajin ke starbak dan mungkin saja pamer.. mungkin saya katakan..
oleh karena itu saya mencoba untuk bertekad tidak mempublish lokasi saya apapun di twitter.. terkesan simple.. tapi itu adalah satu tindakan narsisme lainnya.. bahkan tulisan saya ini bisa dibilang tindakan narsisme.. apapun yang kita katakan atau kita ucapkan kepada orang lain dengan maksud apapun bisa dicap sebagai tindakan narsisme juga.. dan ya hidup itu memang sulit bung.. ketika anda berkata-kata anda akan dikatakan narsis dan ketika anda diam anda akan dibilang sombong..
saya jadi teringat satu quote menarik dari satu film yang saya sendiri lupa.. tapi kurang lebih quote itu berbunyi seperti ini.. "there are two things that you can't undo, first the bullet from your gun and second word that come from your mouth" kata-kata yang kita keluarkan tidak bisa ditarik kembali.. namun tindakan narsisme di media sosial masih bisa ditarik kembali.. dan yang jelas meskipun itu sudah ditarik kembali.. bukti sudah hilang.. namun memori mungkin akan tertanam di masing-masing orang..
so watch your step and think twice.
Thursday, December 12, 2013
narsisme
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment