belakangan ini gw menjadi orang yang labil.. labil dalam arti, tempramen gw suka menjadi naik turun.. mood gw suka roller coaster.. dari yang happy banget kadang bisa menjadi down banget.. begitu pula sebaliknya.. namun ada kala di mana mood gw stabil downnya.. namun satu hal yang gw pelajari selama ini adalah bahwa kadang di kehidupan itu naik dan turun adalah hal yang wajar.. atau mungkin kalau wajar terkesan sebagai suatu pembenaran, katakanlah itu adalah hal yang lumrah, karena banyak orang menghadapinya.. bahkan semua orang menghadapi kehidupan yang naik turun..
pertanyaannya adalah apa yang akan kita lakukan ketika kehidupan kita sedang berada dalam fase turun? apakah tetap terpaku pada realita yang ada, atau menikmati kejatuhan yang ada? gw bukannya mencari sebuah pembenaran tetapi mencoba untuk berpikir kritis.. well, gw suka berpikir soalnya..
ketika berada dalam kondisi yang kurang baik, kalau kita tidak mau berkata bahwa stase kita turun, kecenderungan kita adalah menjadi lebih emosional dan sensitif akan segala sesuatu.. even the slightest one.. bahkan sesuatu yang baik bisa berubah menjadi sesuatu yang buruk menurut kita.. dalam kondisi inilah banyak hal yang akan terganggu, termasuk orang di sekeliling kita.. maka banyak orang yang memilih untuk menutup dirinya dengan akses luar untuk mencegah “terluka”nya orang-orang di luar sana yang mungkin dia kasihi..
hal ini berlaku juga dalam kehidupan gw.. kadang ketika gw sedang merasa down.. gw lebih memilih untuk tidak berinteraksi dengan orang lain.. or at least gw hanya berinteraksi ketika gw ada perlu dengan orang tersebut saja.. nah pasalnya, ketika dalam kondisi seperti itu, banyak tawaran bermain yang datang dari orang-orang di luar yang “memaksa” gw untuk berinteraksi dengan mereka.. somehow, gw pengen untuk ga ketemu dengan mereka.. tapi gw berpikir kembali ketika gw bertemu ada kemungkinan bahwa mereka bisa merubah gw menjadi lebih ceria lagi.. dan itu ada benarnya juga..
kembali ke masalah tempramen.. gw ingat betul ada seorang ‘legend’ yang bilang, legend di sana adalah seseorang yang gw hormati dan sepak terjangnya sudah bisa diakui lah, dia bilang gw adalah orang yang paling sabar dalam satu tim tersebut.. wow.. sejujurnya gw ga menilai diri gw setinggi itu, tapi entah kenapa beberapa orang melihat diri gw bahwa gw adalah orang yang (mungkin) hebat.. padahal engga juga ah.. atau bisa jadi gw orangnya rendah diri.. well, maybe..
tapi hal itu membuat gw berpikir dan berhati-hati dalam bertindak.. sama ketika ada temen gw yang bilang bahwa gw orangnya ‘nerimo’ itu menjadi satu pegangan dan tolak ukur gw.. kembali soal kesabaran.. hal ini menjadi pengingat gw ketika gw berada pada situasi di mana gw ga sabar atau kesel.. kalau misalkan gw flashback ke masa gw kecil dan masa remaja gw.. tidak dipungkiri bahwa gw adalah orang yang cukup tempramen.. gw suka berantem.. hahaha..
tapi ketika gw beranjak dewasa, gw semakin bisa menahan tempramen emosional gw dan mendapatkan label ‘orang yang sabar’, tapi mendapatkan label itu bukan sebuah bukti yang berlanjut.. nyatanya belakangan ini gw suka tempramen.. tampaknya kebiasaan lama memang sulit diubah ya, don’t it?
banyak hal yang mempengaruhi emosi gw.. mostly sih diri gw sendiri. tapi faktor eksternal bisa memicu itu menjadi sesuatu yang berlebihan.. membuat gw menjadi mudah tersinggung dan mengeluarkan ekspresi yang ga enak.. well, setidaknya gw tahu kalau gw marah lebih baik gw diem.. karena kalo gw ngomong, omongan gw itu menyakitkan sih.. meskipun gw ngomongnya dengan nada yang santai..
so, kalo belakangan ini gw agak aneh dan agak annoying maafkan saja lah ya.. gw masih struggling dengan diri gw ini.. bad habit yang harus segera dikalahkan.. dan beberapa hal lain yang harus diselesaikan..
see you..
Wednesday, May 20, 2015
temper
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment