gw selalu terkesima dan tersenyum kecil sambil terenyuh tiap kali gw melihat tulisan ini yang dibuat oleh sahabat gw dari smp.. entah kenapa, gw merasa bahwa gw bukanlah apa yang ditulis oleh dia, tapi somehow, ya begitulah gw adanya, meskipun seringkali gw menganggap diri gw ga se-wow itu..
but one thing that you should know, I really appreciate it.. yes I do..
it has a lot of impact for me that you ought to know..
Best Friend Series: Prastito Widhyanto
by ambatoho, cheftoho.wordpress.com
January 15
Once I have read a blog post from my friend Alien (yes, her name is Alien and she is highly preferred to be called by that name) about her best friend. That was a very cool idea for a blog post (sorry that I forget the link), so I’m gonna make it for my own.
Dan akan saya mulai dari sahabat saya semenjak SMP, Prastito Widhyanto.
Awal mula saya bertemu dengan makhluk unik satu ini adalah ketika pelajaran Bahasa Indonesia kelas 2 SMP. Ya, waktu itu kami sekelas dan sedang ada tugas drama. Kami berbeda kelompok, dan kebetulan waktu itu saya sedang tidak bawa pulpen untuk menulis naskah drama (pun sampai sekarang saya sering kehilangan pulpen. sigh). Tidak ada SATUPUN dari anggota kelompok saya yang membawa pulpen dan terpaksa saya meminjam pulpen ke kelompok sebelah. Dan ya, beliau-lah yang meminjamkan pulpen Pilot berwarna biru ke saya. Semenjak itulah kami mulai dekat, main bola bego (ga usah dijelasin secara detail ini apa, pokoknya ini semacem permainan bola memakai biji kenari tua), main PS 1 bersama, lalu berpacaran dan menikah dan menjalin persahabatan hingga kini.
Pun ketika SMA. Pada awalnya saya bersekolah di SMA 34, dan pada tahun kedua saya mengikuti tes mutasi masuk SMA 70 (sesungguhnya saya juga berangan-angan masuk situ. Waktu itu sih SMA 70 termasuk unggulan. Waktu itu lho. Gak tau kalo sekarang). Saya sungguh senang mengetahui bahwa Tito ini juga bersekolah di sana, dan hal ini terbukti pada hari pertama saya menginjakkan kaki di sekolah itu.
“Oi ho (dia memanggil saya Toho).”
“Napa to.”
Lalu dia mengajak saya masuk ke kelasnya, dan di dalam juga sudah ada sekitar 7 hingga 10 murid lainnya. Pintu kelas ditutup.
“Hah kenapa ditutup To?”
Dan detik berikutnya dia menunjukkan lewat jendela kalau sedang ada tawuran kecil DI DALAM SEKOLAH antara kelas 2 melawan kelas 1 dan kelas 3. Jesus Christ. Tawuran bro. Di dalam sekolah. Untunglah tidak lama tampak beberapa guru laki-laki berhamburan keluar mengejar para murid yang terlibat tawuran tersebut.
Pada masa SMA ini saya semakin sering ke rumahnya di daerah Pondok Pinang Jakarta Selatan (yah lebih kurang juga didukung fakta kalau dulu saya sering suka keluyuran di luar rumah. haha), berkenalan dengan keluarga yang menurut saya salah satu keluarga paling baik yang pernah saya kenal. Pun saya juga sering bersama Tito ini bergabung dengan organisasi siswa Rohani Kristen di sekolah. Kami, bertiga bersama teman saya satu lagi si Ruben, seringkali menjadi singer di ibadah internal sekolah tiap minggu (singer itu ibarat backing vocal). Dan yang paling mutakhir, kami pernah naksir cewek yang sama. Hahahaha. Hal ini sempat membuat hubungan persahabatan kami menjadi super renggang selama beberapa minggu sampai pada akhirnya tidak ada satupun dari kami yang mendapatkan wanita tersebut dan memutuskan untuk baikan. HAHAHAHA. Dasar anak muda.
Sayangnya kami tidak melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang sama (dia kuliah di Fasilkom UI), dan juga tidak bekerja di tempat yang sama. Sekarang dia sampai posting ini diturunkan masih bekerja di Java Soft, sebuah perusahaan software di bilangan Jakarta Selatan.
Salah satu sifat yang saya kurang suka dari Tito ini adalah bahwa orangnya susah jauh dari rumah. Pernah (atau lebih tepatnya seringkali) alasan yang dia berikan untuk beberapa hal seperti misalnya bagaimana dia memilih pekerjaan atau niat/enggaknya mengikuti beberapa kegiatan adalah soal lokasinya itu jauh atau engga dari rumah. Ini kadang yang suka bikin saya gemas bukan kepalang. Come on, man. Lots of opportunities out there!
Dan Tito ini orangnya Jawa banget. Kalau udah ada posisi di mana seseorang harus ngalah, seringkali dialah yang rela mengalah. It is a good thing in one side, thou. Orang-orang seperti dia lah yang justru menjadi solusi di tengah ancaman situasi kalo-gini-terus-gue-bakalan-bubar. Tapi juga ada kalanya saya ingin Tito ini lebih berani untuk mempertahankan posisinya. Hal ini juga berimbas pada, well, kisah asmaranya yang saya rasa juga banyak dialami pria-pria di luar sana. Hahaha.
Alright. Hal positif pertama yang sungguh saya belajar banyak darinya adalah mengenai keintiman dia dengan keluarga. Keluarganya sungguh harmonis, saya belajar banyak dari keluarganya bagaimana saya akan membangun keluarga saya sendiri nantinya.
Selain itu, he is seriously damn smart. Even much smarter than me. Dia lah tempat saya bertanya untuk segala soal Fisika dan Matematika saat SMP dan SMA. Tidak hanya saya saja tentunya. Hampir seluruh teman-teman yang lain juga menjadikan dia sebagai sumber jawaban segala soal-soal. Hahaha. Gimana gak pinter, kuliahnya aja di Fasilkom, bro. Banyak programming isinya (sorry bluffing :p). Seringkali ketika saya menginap di rumahnya dan ngobrolin banyak hal (mulai dari cewek sampai balik ke cewek lagi), seringkali dia mengeluarkan statement-statement yang bikin gak bisa tidur atau penuh paradoks.
Tito juga pendengar yang luar biasa. Pendengar yang luar biasa tidak hanya cakap dalam mendengar tapi juga memberikan respon yang tidak intimidatif. And he does that by nature. Apalagi diperlengkapi dengan kecerdasan luar biasa, maka dia juga bisa menjadi pemberi solusi yang seringkali tidak terpikirkan.
For me, he is one of the blessings that God put into my life. Banyak hal yang saya punya, dia tidak punya. Vice versa. Dia pemalu, saya orangnya malu-maluin. Saya orangnya jarang pulang ke rumah, dia setiap hari pulang. Adakalanya dia yang memutuskan sesuatu, terkadang juga saya yang take over.
God bless you, To. Just stay for whatever you are.
And please, find a girlfriend. I taught you so much. LOL.
P.S.: Oh ya, he also has a blog! You can check it out at http://prastito.blogspot.com
thanks ronald,
I tried to write the same thing, but it doesn't finish yet..
just wait for it..
No comments:
Post a Comment