ada sesuatu yang menarik jika kita berbicara mengenai pengampunan, karena pengampunan tersebut bukan berasal dari pihak kedua, melainkan dari pihak pertama, atas apapun kejadian yang telah terjadi antara pihak pertama dan pihak kedua..
pengampunan tidak hanya muncul ketika pihak kedua meminta maaf dan memohon dengan sungguh agar bisa dimaafkan, ataupun alasan-alasan logis yang dikemukakan oleh pihak kedua, ataupun semua pendapat atau pandangan orang lain pihak ketiga atas kasus tersebut..
namun pengampunan muncul ketika pihak pertama sudah bisa untuk mencoba melepaskan masalah tersebut dari hidupnya..
mengampuni itu sangat identik dengan mendendam..
identik dalam arti, ketika anda tidak mengampuni bisa jadi anda sudah mulai mendendam.. saya mengatakan bisa jadi, dan itu bukan berarti selalu seperti itu.. namun kebanyakan hal yang terjadi adalah ketika kita tidak mengampuni ada perasaan amarah dan gelora yang muncul di dalam batin sehingga berakar dan mulai menahan dan mengingat permasalahan tersebut..
setelah mengampuni, tahap selanjutnya adalah melupakan.. uniknya otak kita tidak semudah itu melupakan hal-hal yang penting, atau terlebih lagi hal-hal yang absurd yang terjadi di dalam hidup kita.. seringkali otak kita menyimpan beberapa pengalaman pahit yang muncul dan membuat itu sebagai sebuah peringatan agar ke depannya tidak terjadi lagi..
nah lantas, apakah semua masalah harus dilupakan?
perdebatan pun muncul apakah sesungguhnya kita harus mengampuni dan melupakan, atau mengampuni tapi membuat itu sebagai sebuah peringatan?
permasalahannya bukan pada lupa atau tidaknya, namun bagaimana kita menyikapinya ketika kita ingat kembali atas masalah yang dulu.. mungkin otak kita sudah cukup random untuk mengambil beberapa bagian dari memori kita untuk diputar pada waktu-waktu tertentu atau situasi tertentu, atau kadang otak kita memutarnya pada saat random..
namun, semakin besar masalah ataupun semakin besar luka yang pernah ditimbulkan maka semakin tidak mudah bagi kita untuk melupakannya, karena ada beberapa bagian dari dalam hidup kita yang terhubung dan terkoneksi dengan problem sebelumnya yang kita hadapi, hal ini tentunya membuat kita semakin memiliki banyak momen yang tiba-tiba pada saat yang sama muncul, bisa terkoneksi dengan memori tersebut..
idealnya adalah ketika memori itu muncul, maka sebaiknya respon kita adalah segera menutupnya kembali.. sama seperti perasaan kagum pada lawan jenis ketika kita sudah memiliki pasangan..
rasa kagum itu tidak bisa dilawan, karena itu alamiah, namun kita bisa menutup mata hati kita sehingga tidak terkoneksi lagi dengan perasaan yang sudah pernah muncul..
sama seperti mata, mata pada dasarnya selalu terbuka atas objek yang dilihatnya, namun ketika kita melihat hal-hal yang tidak baik, kita bisa mengarahkan mata kita ke hal yang lain atau menutup mata..
melepaskan pengampunan bukan hanya berbicara mengenai kemampuan, melainkan kemauan, dan tekad untuk bisa tetap konsisten mengampuni.. mengampuni bukan hanya proses yang terjadi satu kali saja, melainkan sebuah proses yang terjadi terus menerus, mungkin sampai kita akan lupa pada masalah awalnya..
mengampuni, bahwa kita dimampukan untuk mengampuni.
Wednesday, May 1, 2019
melepaskan pengampunan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment