"kasian ya, dia gendut, biasanya kan kalo gendut banyak penyakitnya"
mungkin kalimat di atas sering sekali kita dengar di dalam kehidupan sehari-hari.. banyak label yang muncul di lingkungan kita bermasyarakat dan berkehidupan.. ya, mungkin memang dia tau dari pengalaman yang sehari-hari yang muncul atau sering tahu kasus-kasus seperti itu, tapi ya memang gak semua kaya gitu.. mungkin ini agak-agak ambigu ketika gw "membenarkan" orang yang ngomong sesuatu karena dia berpendapat.. karena berpendapat memang dibolehkan oleh undang-undang dan negara menjamin hal itu..
tapi apakah yang membedakan antara pendapat dan stereotip?
kalau dari sisi bahasa, stereotip adalah 'konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat'.. kalau dari bahasa indonesia sudah dijelaskan bahwa stereotip adalah sesuatu anggapan yang tidak tepat.. namun secara umum stereotip itu lebih ke identifikasi suatu golongan berdasarkan sebuah ide atau prasangka.. memang stereotip tidak dapat dilepaskan jauh dari pendapat dan kebebasan berpendapat.. tapi memang pembeda itu tipis sekali.. stereotip lebih ke identifikasi objek, sedangkan pendapat lebih ke sebuah gagasan dari subjek..
mungkin kita bisa menggantikan kata stereotip dengan kata label, sehingga lebih mudah dipahami oleh kita semua..
label biasanya dimunculkan oleh sebuah identifikasi terhadap sebuah objek, katakanlah sebuah baju diberi label dengan harga sekian, karena nilai dari baju tersebut.. sama halnya dengan label yang diberikan oleh sekelompok orang terhadap orang lain.. label selalu erat hubungannya dengan kondisi lingkungan dan kondisi sosial di mana objek tersebut berada.. (tolong digaris bawahi bahwa ketika gw berbica tentang objek, gw tidak berkata bahwa manusia atau orang lain adalah sebuah benda, melainkan kepada struktur dari sebuah kalimat)
ya memang banyak label yang dimunculkan dalam kehidupan kita, khususnya di budaya timur, di indonesia saya membahasnya.. entah kenapa orang indonesia cukup suka dan cukup doyan untuk mencampuri urusan orang lain, ya saya gak bisa menyalahkan merkea juga, toh mencampuri itu bisa bermaksud baik karena peduli dan orang indonesia ramah? hehehe.. salah satu label yang cukup sering didengar belakangan ini di indonesia (khususnya jakarta) adalah mengenai kebiasaan berpakaian.. memang label bisa menjurus ke sara (suku, agama, ras, antargolongan)..
"perempuan yang pakaiannya minim itu biasanya perempuan yang gak bener dan udah gak perawan"
mungkin ada dua hal di sini, yang satu masalah virginity dan yang satu masalah 'gak bener'.. well, dua-duanya bukan urusan orang lain.. mungkin yang dia tahu atau orang lain tahu, justru kebalikannya.. perempuan yang gak bener itu biasanya berpakaian minim.. tapi hal itu tidak bisa dibolak-balik menurut saya, karena bagaimana kita tahu bahwa dia perempuan yang gak bener dari pakaiannya, bukan perilakunya.. dan soal keperawanan, kenapa orang lain begitu care dengan hal itu, karena itu adalah urusan dia masing-masing, dan mungkin urusan calon suaminya nanti.. ya memang kembali lagi ke budaya di mana keperawanan sangat dijunjung tinggi di indonesia, maybe..
banyak juga lho orang yang pakaiannya gak minim juga gak bener.. nah itu kembali menjadi sebuah identifikasi sebuah golongan terhadap golongan lain yang berpakaian minim.. well, gw mungkin akan ngebahas itu lain kali, tapi bukan di sini..
nah yang lebih mengkhawatirkan ini, labeling atau stereotip ini sangat berkembang di masyarakat kita.. ya sangat.. bahkan sangat erat di dalam kehidupan kita.. dan satu hal yang disayangkan adalah hal ini juga menjamur di ranah agama.. gw gak komentar agama lain, tapi gw komentar dari sisi agama kristen..
kekristenan, khususnya karismatik.. sangat sering lekat dengan labeling atau stereotip ini.. mungkin kalau aliran yang lain kurang begitu terdengar, karena mereka jarang untuk berbicara dengan frontal.. hehehe.. ya, orang-orang karismatik ini sangat senang dengan yang namanya labeling.. mulai dari labeling seseorang itu sesat atau enggak karena perbedaan pandangan dengannya atau karena hal lain.. dan mungkin karena aliran karismatik itu adalah aliran yang frontal, jadi mereka sering vokal untuk kasus-kasus tertentu, misalkan moving in, virginity, lgbt, illuminati dsb dst..
bahkan gw sangat ingat sekali ketika dulu jaman harry potter lagi booming, ataupun pokemon, teletubies bahkan spongebob.. selalu saja ada komentar bahwa itu adalah bukan sesuatu yang baik,, bahkan film-film tersebut adalah penyesatan.. gw inget banget gw gak boleh nonton harry potter dan pokemon, padahal pokemon seru sih.. dan bahkan ada artikel apa ya tentang pokemon yang menyebutkan bahwa pokemon datang untuk menyesatkan karena mereka antichrist.. artikel tersebut bersumber pada wawancara dengan pembuat pokemon.. dan ternyata artikel tersebut adalah hoax.. wkwkwk..
terlepas dari pada itu ada beberapa kasus yang cukup agak menyedihkan ketika gw mendengarnya.. well gw bukan seorang praktisi atau akademisi.. tapi hal ini menurut gw cukup menyedihkan.. karena stereotipe itu jadi terkesan dibungkus dengan baik dan menganggap sebuah kejadian yang normal menjadi sesuatu yang menjadi aib..
kedua contoh di bawah ini merupakan hasil pendengaran langsung dari apa yang gw lihat dan gw dengar..
contoh pertama adalah ketika sedang altar call, si pendeta memanggil orang-orang yang belum punya keturunan.. coba perhatikan kalimat saya sebelumnya, pendeta memanggil.. berarti inisiatif ada di pendeta ya, bukan si objek (pasangan yang belum mempunyai keturunan).. well, gw sebetulnya gak mau berargumen apakah itu suara Tuhan atau bukan.. tapi menurut pandangan saya, kenapa orang-orang tersebut itu dipanggil ke depan? apakah salah tidak punya keturunan? apakah salah jika salah satu-nya "mandul".. apakah sebuah aib bagi sebuah keluarga untuk memilih tidak memiliki keturunan?
ya mungkin jika dilandaskan pada tugas manusia pertama untuk beranak cucu dan memenuhi bumi, maka hal tersebut bisa menjadi hal yang benar.. namun bumi sudah penuh.. jakarta sudah penuh..
lantas jika mereka memilih untuk tidak memiliki keturunan, apakah itu salah? it's their life right? dan itu adalah pilihan personal dari pasangan tersebut..
ya memang tidak memiliki keturunan itu dicap jelek di budaya indonesia.. ya memang.. karena prinsip banyak anak banyak rejeki.. namun jika kita berkaca dan memaknai ulang bahwa ketika seseorang memiliki anak maka dia akan disebut dikarunai seorang anak.. karunia itu berbicara tentang pemberian.. dan itu tidak bersifat wajib.. ya mungkin lain hal-nya jika orang tersebut minta untuk didoakan? but don't you feel that they feel embarassed or tired to be told like that?
contoh kedua yang membuat saya pribadi cukup kesal adalah ketika seseorang menderita penyakit mental, let's say depression.. orang-orang yang depresi rentan dengan yang namanya pikiran atau tindakan untuk bunuh diri.. well, orang kristen sekali lagi memandang buruk sekali tentang bunuh diri itu.. well, gw gak membenarkan juga.. tapi ketika kalian bilang bahwa orang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri itu tidak memiliki iman atau memiliki iman yang kecil.. di situlah letaknya..
orang-orang yang depresi bukan hanya orang yang di luar Tuhan, tapi banyak juga orang yang pelayanan, aktivis, ataupun pengerja bisa juga mengalami depresi.. sekali lagi depresi bukan karena dia gak percaya Tuhan.. well, itu adalah kesalahan fatal dari orang-orang kristen yang mempunyai pemikiran seperti itu.. depresi itu sama seperti penyakit fisik lainnya, namun depresi itu tidak terlihat seperti penyakit fisik..
itulah sebabnya orang-orang yang depresi makin terpuruk di dalamnya, karena ketika mereka mulai untuk bercerita dan konsultasi, orang-orang di luar sana langsung memberikan label kepadanya.. bukannya makin membaik, dia bisa makin memburuk.. saya pernah membaca sebuah artikel mengenai orang yang depresi dan dia berada di kalangan orang kristen yang taat.. well, tekanan yang dia alami sungguh amat besar sehingga dia memilih untuk diam saja dan tidak membuka diri kepada lingkungan yang ada..
banyak lagi contoh-contah lainnya, namun dua hal ini merupakan contoh langsung yang saya alami dan contoh yang paling berkesan..
kesalahan orang kristen adalah mereka merasa dirinya paling benar dan ketika ada orang lain yang "berdosa" mereka mencoba untuk membentengi diri mereka masing-masing supaya diri mereka tidak tercemar..
tapi Tuhan datang untuk orang sakit dan orang berdosa kan? apakah Dia memberi label kepada orang-orang yang diasingkan? tidak, justru dia datang untuk membuang label tersebut..
Saturday, October 6, 2018
stereotip
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment